TERKINI
KTT Global Capai Kesepakatan Bersejarah Target Reboisasi Ekosistem Tropis RI Sandarkan Integritas Perdagangan Karbon pada Sistem Registri Nasional Komitmen Restorasi 30% Lahan Gambut dan Hutan Mangrove Pesisir

PHE Petakan Reservoir Migas unatuk Penyimpanan Karbon Regional

JAKARTA - PT Pertamina Hulu Energi atau PHE memetakan potensi reservoir minyak dan gas yang telah mengalami penurunan produksi serta lapisan akuifer asin di wilayah kerjanya untuk dikembangkan sebagai tempat penyimpanan karbon dioksida. Ren...
PHE Petakan Reservoir Migas unatuk Penyimpanan Karbon Regional
Foto liputan: PHE Petakan Reservoir Migas unatuk Penyimpanan Karbon Regional Sumber: Dok. Redaksi Garis Bumi

JAKARTA - PT Pertamina Hulu Energi atau PHE memetakan potensi reservoir minyak dan gas yang telah mengalami penurunan produksi serta lapisan akuifer asin di wilayah kerjanya untuk dikembangkan sebagai tempat penyimpanan karbon dioksida.

Rencana tersebut menjadi bagian dari pengembangan teknologi Carbon Capture and Storage atau CCS dan Carbon Capture, Utilization and Storage atau CCUS yang diperkenalkan PHE dalam International Indonesia CCS Forum 2026 di Jakarta pada 26 sampai 27 Agustus 2026.

PHE menilai Indonesia mempunyai peluang menjadi pusat jaringan penyimpanan karbon regional karena memiliki potensi geologi, wilayah yang dekat dengan sejumlah negara Asia, serta kemungkinan pembangunan infrastruktur bersama.

Salah satu kawasan yang dipertimbangkan adalah Asri Basin. PHE melihat kawasan tersebut berpotensi dikembangkan sebagai CCS hub yang mengonsolidasikan karbon dioksida dari sumber emisi domestik maupun regional.

Dalam pengembangan CCS, karbon dioksida dari sumber emisi terlebih dahulu ditangkap, kemudian diangkut dan diinjeksi ke formasi geologi yang dinilai memenuhi persyaratan untuk menyimpan CO₂ dalam jangka panjang.

PHE menyebut dua jenis formasi yang berpotensi digunakan, yakni depleted reservoir atau reservoir migas yang produksinya telah menurun, serta saline aquifer, lapisan batuan bawah tanah yang mengandung air berkadar garam tinggi.

Corporate Secretary PHE Hermansyah Y Nasroen mengatakan pengembangan CCS dan CCUS menjadi bagian dari strategi penurunan emisi sekaligus membuka kemungkinan terciptanya nilai ekonomi baru bagi industri hulu migas.

Namun potensi geologi tidak otomatis berarti suatu reservoir sudah siap digunakan sebagai tempat penyimpanan karbon. Pengembangannya membutuhkan kajian karakteristik batuan, kapasitas dan keamanan penyimpanan, sistem pemantauan, jaringan transportasi CO₂, keekonomian proyek, serta kepastian regulasi.

Pengembangan CCS juga menjadi salah satu opsi untuk menekan emisi dari sektor industri yang sulit sepenuhnya beralih dari bahan bakar fosil dalam waktu singkat.

PHE menyatakan proyek tersebut diarahkan untuk mendukung target Net Zero Emissions Indonesia pada 2060.

SUMBER REDAKSI: Pertamina Hulu Energi, 27-28 Agustus 2026.

Bagaimana menurut Anda tentang liputan ini?

Beri reaksi pembaca untuk mengapresiasi karya jurnalistik ini:
KR
Krisna WA Jurnalis Terverifikasi

Berfokus pada liputan mendalam krisis iklim, keanekaragaman hayati nusantara, dan kebijakan transisi energi bersih berkeadilan sosial bagi masyarakat tapak.

ARTIKEL SEBELUMNYA 40 Hektare Zona Inti TNBBS Dibuka Ilegal, Empat Tersangka Ditahan ARTIKEL BERIKUTNYA PLTS Terapung Saguling Capai 47 Persen, Target Operasi Bergeser ke April 2027
Diskusi & Komentar Pembaca (0)

Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi

Tanggapan akan disaring dan diverifikasi redaksi terlebih dahulu sebelum terbit.
Belum ada komentar untuk artikel ini. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!

Berita Terkait Lainnya

Lihat Semua di Rubrik ENERGI
📅 1 hour ago
📅 1 hour ago
📅 1 hour ago
Tautan artikel berhasil disalin ke clipboard!