45 Anak Muda Susuri Hutan Dramaga untuk Lengkapi Data Biodiversitas
BOGOR - Sebanyak 45 anak muda menyusuri Hutan Penelitian Dramaga, Bogor, Jawa Barat, untuk mengamati dan mendokumentasikan keanekaragaman hayati melalui Forest Youthverse Bio-Discovery Expedition 2026, Sabtu, 29 Agustus 2026.
Ekspedisi yang digelar Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan itu diarahkan untuk mengenalkan peserta pada pentingnya data biodiversitas sebagai dasar pengelolaan dan konservasi kawasan.
Peserta dibagi menjadi sejumlah kelompok pengamatan, meliputi burung atau aves, mamalia, kupu-kupu, flora, serta herpetofauna yang mencakup reptil dan amfibi.
Mereka didampingi akademisi dan tenaga ahli, termasuk dari IPB University dan Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan Berkelanjutan.
Selama kegiatan lapangan, peserta belajar mengenali jenis, mengamati habitat, mencatat temuan dan melihat bagian informasi biodiversitas yang masih perlu ditelusuri lebih jauh.
Tema ekspedisi menggunakan istilah “data deficient” untuk menekankan masih adanya informasi keanekaragaman hayati yang belum lengkap. Dalam konteks kegiatan ini, istilah tersebut merujuk pada kekurangan informasi yang perlu dicari dan dilengkapi, bukan otomatis status konservasi resmi suatu spesies.
Kepala Pusat Pengembangan Generasi Pelestari Hutan Luckmi Purwandari mengatakan generasi muda perlu mendapatkan kesempatan tidak hanya mengenal biodiversitas, tetapi juga terlibat dalam proses menemukan dan mendokumentasikan data untuk mendukung konservasi.
Data menjadi bagian penting dalam perlindungan keanekaragaman hayati.
Keberadaan suatu satwa atau tumbuhan perlu dipahami bersama informasi mengenai habitat, persebaran, kondisi populasi dan berbagai tekanan yang dihadapinya. Dari sana, pengelola dapat menyusun langkah konservasi yang lebih tepat.
Di Dramaga, proses tersebut diperkenalkan melalui cara paling sederhana.
Masuk ke hutan. Mengamati. Mencatat. Lalu bertanya tentang apa yang belum diketahui.
Hutan Penelitian Dramaga akhirnya tidak hanya menjadi tempat untuk melihat pepohonan, burung atau kupu-kupu.
Ia juga menjadi ruang belajar tentang bagaimana pengetahuan mengenai alam sebenarnya dibangun.
SUMBER REDAKSI: Kementerian Kehutanan, 29 Agustus 2026.
Tuliskan Pendapat Anda Wajib Moderasi Redaksi